Oleh: Nasrulloh Baksolahar
Di tengah melimpahnya sumber sejarah, masih kerap muncul narasi bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan oleh serangan Islam. Klaim ini perlu ditinjau secara kritis. Fakta sejarah menunjukkan proses yang jauh lebih kompleks dan bertahap.
Ekspansi Majapahit di Era Gajah Mada
Pada masa kejayaannya, terutama di bawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit menjelma menjadi kekuatan besar di Nusantara. Melalui Sumpah Palapa, ia mencita-citakan penyatuan wilayah kepulauan di bawah hegemoni Majapahit.
Kitab Nagarakretagama mencatat sejumlah daerah yang berada dalam pengaruh atau taklukan Majapahit. Ekspansi itu mencakup wilayah-wilayah di Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga kawasan timur Nusantara. Sejarawan seperti Slamet Muljana dalam Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya menegaskan bahwa pengaruh Majapahit bersifat politik dan militer, meskipun kadar penguasaannya berbeda-beda di setiap daerah.
Kerajaan-kerajaan lain tidak selalu tunduk secara sukarela. Pajajaran di Jawa Barat, misalnya, tetap berdiri hingga akhir masa Majapahit. Di luar Jawa, tekanan militer juga diarahkan ke wilayah-wilayah yang telah lebih dahulu tersentuh Islam.
Pasai dan Dinamika Politik Abad ke-14
Samudera Pasai merupakan salah satu kesultanan Islam awal di Nusantara, sebagaimana dicatat dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan berbagai studi modern. Sebelum itu, terdapat Perlak yang lebih awal berdiri.
Sumber-sumber menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-14 terjadi ekspedisi Majapahit ke Sumatra, yang melemahkan posisi politik Pasai. Namun, penting dicatat bahwa kemunduran Pasai tidak serta-merta menghentikan peran intelektual dan keagamaannya.
Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang, disebutkan bahwa ketika Kesultanan Malaka berkembang, para ulama di sana masih merujuk persoalan-persoalan fikih kepada ulama Pasai. Bahkan, ulama Pasai yang datang ke Malaka disambut dengan penuh kehormatan oleh Sultan. Hal ini menunjukkan bahwa otoritas keilmuan Pasai tetap diakui meskipun kekuatan politiknya melemah.
Dari Senjata ke Jaringan Dakwah
Jika Majapahit menaklukkan dengan kekuatan militer, maka para ulama Pasai dan jaringan ulama internasional merespons dengan strategi berbeda: membangun masyarakat melalui dakwah dan perdagangan.
Sejumlah tokoh yang disebut dalam tradisi Jawa antara lain Maulana Malik Ibrahim dan Jumadil Kubro. Mereka dan jaringan ulama berdarah Arab-Persia-Asia Selatan membangun basis dakwah di pesisir Jawa Timur, seperti Gresik. Strateginya tidak konfrontatif, melainkan kultural dan sosial: berdagang sambil berdakwah, mendirikan pusat pendidikan, serta membangun relasi dengan elite lokal.
Dari jaringan ini kemudian lahir figur-figur penting seperti Sunan Giri dan Sunan Ampel. Penelitian Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c. 1200 serta M.C. Ricklefs dan Anthony Reid menunjukkan bahwa islamisasi Jawa berlangsung melalui jalur perdagangan, perkawinan politik, dan transformasi sosial, bukan melalui invasi bersenjata.
Transformasi Politik: Dari Majapahit ke Demak
Ketika pengaruh Islam menguat di pesisir utara Jawa, muncul Kesultanan Demak. Tokoh sentralnya adalah Raden Patah, yang dalam tradisi Jawa disebut memiliki hubungan darah dengan keluarga Majapahit.
Perubahan ini tidak terjadi melalui penyerbuan militer terhadap pusat Majapahit. Sejumlah sejarawan menilai keruntuhan Majapahit pada akhir abad ke-15 lebih dipengaruhi konflik internal, perebutan takhta, serta melemahnya otoritas pusat setelah wafatnya raja-raja kuat seperti Hayam Wuruk.
Islam telah berkembang di Jawa Timur selama puluhan tahun sebelum keruntuhan resmi Majapahit pada 1478 M. Bahkan dalam beberapa periode, tokoh-tokoh Muslim memperoleh pengakuan administratif sebagai adipati di wilayah pesisir.
Faktor Sosial dan Perubahan Nilai
Selain faktor politik, perubahan sosial turut memainkan peran penting. Islam menawarkan pola kehidupan yang menekankan kesetaraan spiritual—shalat berjamaah tanpa pembedaan kasta, kewajiban bersuci, serta etika sosial yang relatif egaliter. Bagi sebagian masyarakat pesisir yang kosmopolitan, nilai-nilai ini selaras dengan dinamika perdagangan dan mobilitas sosial yang lebih terbuka.
Karena itu, menyederhanakan keruntuhan Majapahit sebagai akibat “serangan Islam” tidak sesuai dengan kompleksitas sejarah. Prosesnya adalah transformasi panjang: ekspansi militer Majapahit melemahkan beberapa kerajaan Islam, tetapi jaringan ulama dan pedagang justru membangun fondasi sosial baru di wilayah Majapahit sendiri.
Jika Majapahit pernah datang ke Pasai dengan kekuatan senjata, maka dalam kurun berikutnya, gagasan dan nilai-nilai Islam datang ke Jawa bukan sebagai pasukan, melainkan sebagai jaringan ilmu, perdagangan, dan perubahan sosial yang perlahan namun mendalam.
Sumber:
Buya Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, GIP, 2017
